DUHAI HATI, TETAPLAH ISTIQOMAH..
DUHAI HATI, TETAPLAH ISTIQOMAH..
Posted by Islamic Generation Tuesday at 9 PM – Filed in dalam catatan dakwah – #
Oleh: Christian Atanila
dakwatuna.com – Seorang anak kecil datang menghampiri ibunya. Ia merengek minta dibelikan sepatu baru. Di sekolah ia diejek karena sepatunya sudah usang dan banyak tambalan. Dengan berbagai alasan ia utarakan agar ibunya mau membelikan sepatu baru.
Dengan mata berkaca-kaca, sederet kalimat ini keluar dari mulut ibunya, “Nak, kamu kan sudah besar. Kamu harus mengalah dengan adik-adikmu. Mereka butuh uang untuk sekolah mereka nanti. Uangnya ibu tabung untuk mereka. Kalau ibu pakai uang itu untuk membelikan kamu sepatu baru, lalu adik-adikmu sekolah pakai uang siapa? Apa kamu mau adik-adikmu tidak bersekolah?”
Anak kecil tadi tiba-tiba terdiam. Ia terlihat seperti anak remaja yang sudah bisa berpikir cukup berat dan bijak. Digoyang-goyangkan kepalanya sambil mengusap air mata yang tadi keluar deras dari kelopak matanya. Lalu ia berkata, “Bu, kalau nanti adik-adik sudah bisa sekolah. Terus kalau ada sisa uang, belikan sepatu ya..”Anak itu mengatakan kalimat itu dengan terbata-bata, seperti ia tidak rela dengan hal itu tapi ia dipaksa oleh kondisi untuk mengikhlaskan apa yang menjadi kehidupannya. Mendengar itu sang ibu memeluk anaknya dengan erat. Ia tidak menyangka anaknya dapat memahami apa yang terjadi hari ini dengan keluarga mereka. Ia heran anaknya sudah mampu berkata bijak seperti tadi ia dengar.
*** Read more…
Ekonomi Syariah adalah Sistem Ekonomi yang Anti Krisis
Pengantar
Ekonomi Kapitalisme rawan terjadi krisis. Krisis yang dipicu oleh kredit macet di bidang properti beberapa waktu yang lalu (subprime mortgage) di AS menjalar ke mana-mana, dan belum bisa diatasi sepenuhnya. Di negeri asalnya, krisis keuangan tersebut menimbulkan bahaya besar. Banyak orang kehilangan rumah. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Krisis ekonomi yang melanda AS telah memicu banyak orang berpikiran pendek. Beberapa di antaranya memilih bunuh diri untuk mengatasi masalahnya.
Kasus yang cukup menggemparkan ialah ketika seorang menejer keuangan di California membunuh enam angota keluarganya lalu bunuh diri karena stres tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Kasus lain, seorang janda berusia 90 tahun menembak dadanya sendiri saat petugas datang untuk menyita rumah yang telah ia tempati selama 38 tahun. Read more…
Posted by تان سليمان Anti Islam, Internasional1:58 PM
http://bit.ly/JSKKzG
Seorang mualaf Italia yang bekerja sebagai pembuat gambar ditangkap pada Senin kemarin (23/4) di Pesaro Italia tengah atas tuduhan mendistribusikan informasi tentang bagaimana membuat bom, polisi mengatakan.
VALENTINE BERDARAH
..**Valentine Berdarah**..
Ini adalah satu kisah tragis yang menimpa seorang anak manusia. Kisah yang teramat tragis, yang tentunya tak akan pernah terbayangkan akan terjadi namun ternyata benar-benar terjadi . Read more…KONSEP IBU RUMAH TANGGA MENURUT AL-QUR’AN
KONSEP IBU RUMAH TANGGA MENURUT AL-QUR’AN (QS. Al-Ahzab [33] : 28-34)
28. Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya. Maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah[suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami.] dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. 29. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Alloh dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Alloh menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar. 30. Hai isteri-isteri nabi, siapa-siapa diantaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat dan yang demikian itu mudah bagi Alloh. 31. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Alloh dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan kami sediakan baginya rezki yang mulia. 32. Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina] dan ucapkanlah perkataan yang baik, 33. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah ini juga meliputi segenap mukminat.] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu[Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Alloh dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Alloh bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. 34. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Alloh dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Alloh adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. Read more…
Mengasuh Anak Tanpa Stres
Ada seorang akhwat yang berkonsultasi di Rubrik Media Umat yang diasuh oleh “Dra(Psi) Zulia Ilmawati mengatakan bahwa ia sering mendengar, banyak orang tua yang mengeluhkan betapa sulit mengasuh anak di masa sekarang ini. Apalagi jika tidak sekadar ingin mendapatkan anak yang pintar, tetapi juga shalih. Bukan saja sikap anak-anak sekarang yang memang lebih berani dan agak “sulit” diatur, tetapi juga tantangan globalisasi budaya, informasi dan teknologi yang turut andil dalam mewarnai sikap dan perilaku anak. Repot, capek, dua hal ini yang sering terucap oleh para ibu ketika sudah merasa jenuh dengan anak-anak. Apalagi bila anak sudah mulai bertindak semaunya. Apakah keadaan yang demikian ini dapat menimbulkan stres untuk para orang tua khususnya ibu? Bagaimana mencegahnya? Berikut ini penjelasannya. Read more…
Latah, Menghambat Perkembangan Bahasa Anak Anda
Pengertian Istilah
Latah adalah suatu keadaan kejiwaan di mana penderita menjadi seperti kesurupan dan meniru secara otomatis omongan atau gerakan orang yang menimbulkannya dengan mengagetkan penderita. Latah hanya ditemukan dalam kebudayaan tertentu di dunia. Oleh sebab itu, latah dianggap sebagai suatu sindrom khusus kebudayaan.1)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, latah berarti (1) menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain; (2) berlaku seperti orang gila (misal karena kematian orang yang dikasihi); (3) meniru-niru sikap, perbuatan, atau kebiasaan orang atau bangsa lain: jangan kita — terhadap kebudayaan asing.2)
LATAH itu Sebuah peniruan spontan yang dilakukan oleh seseorang akibat terkejut. Dr RinRin Khaltarina mengungkapkan bahwa latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psi-kologis, dan sosial. Ada empat macam latah yang bisa dilihat berdasarkan gejala-gejala tersebut, yaitu ekolalia (mengulangi perkataan orang lain), ekopraksia (meniru gerakan orang lain), koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor), automatic obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Hasil kajian yang dilakukan, mereka bersependapat untuk mengkelaskan latah sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.3)
Didalam sebuah artikel dengan judul “Apakah itu Latah? Apakah Penyebabnya? Apasaja Macamnya?” mengatakan bahwa latah itu adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).4) Read more…
Mengapa Aku Disuruh Terus?
Katakanlah Walaupun Pahit
‘’Dodi… ayo sini, ini bi Ema belikan kertas gambar, pensil dan buku gambar kosong. Bibi lihat kamu pandai menggambar, juga senang mengambar apa saja, sekarang kembangkan kreativitas kamu dengan menggambar dari contoh yang sudah ada polanya,” ucap bi Ema panjang lebar kepada Dodi disaat ada kesempatan bagi Dodi untuk menginap dirumah bi Ema.
Sampai saat ini bi Ema tidak mempunyai anak. Adik bungsu dari ibunya Dodi ini adalah seorang guru yang sudah 20 tahun menjadi guru SD. Wajahnya selalu ceria, garis senyum di bibirnya begitu membekas dihati siapa saja, yang berjumpa dengannya. “Ini juga boleh untukmu, ya Fitri,” sapa bi Ema kepada adiknya Dodi yang nampak hanya diam termangu menerima kertas yang masih polos berwarna putih. ”Untuk menggambar apa saja yang kamu sukai, kamu boleh pinjam peralatan tulis ka dodi yang bi Ema belikan,” terang bi Ema pada Fitri.
Sejenak suasana sepi memenuhi ruang keluarga bi Ema dimana ruangan itu terdapat televisi yang didepannya terhampar karpet yang agak keras, sehingga membuat Fitri dan Dodi, dua kakak beradik yang baru berusia 6 dan 4 tahun asyik dengan pekerjaannya masing-masing. Tak lama, bi Ema keluar dari dapur dan menghampiri mereka sambil membawa sepiring donat coklat, hasil olahan tangannya sendiri. Bi Ema memang ibu rumah tangga yang sangat trampil. Bi Ema juga membuatkan Fitri dan Dodi dua gelas air jeruk dingin. Tak sabar Fitri dan Dodi langsung meraih donat dari piring, sampai bi Ema mengingatkan mereka berdua untuk cuci tangan terlebih dahulu, setelah tangan anak-anak belepotan penuh dengan corat-coret spidol dan krayon. Dodi dan Fitri kemudian meletakkan kertas gambar mereka dan bergegas mengikuti perintah bi Ema untuk cuci tangan lalu duduk tenang makan donat.
Sepeninggal anak-anak, bi Ema melihat-lihat kertas gambar yang anak-anak buat. Subhanallah bi Ema terperangah, melihat gambar Fitri yang sudah begitu nampak keindahannya dengan warna-warnanya yang begitu jelas keluar. Bi Ema berpendapat bahwa gambarnya Fitri, gadis kecil berusia 4 tahun ini mempunyai bakat dan hasil gambarnya sangat layak untuk diikutkan dalam lomba. Sementara itu hasil gambarnya Dodi, kakaknya yang berusia lebih besar, ternyata hanya berupa coretan-coretan saja dengan pensil tanpa ada pewarnaan yang jelas, sehingga terkesan bahwa Dodi begitu ingin menggambar namun tidak tahu harus mulai dari mana.
“Wah Dodi, bagus sekali cara kamu menggambar, memang kamu ingin buat gambar apa sayang..? nanti coba tunjukkan pada ayah dan ibu yaa kalau sudah pulang nanti,” puji bi Ema kepada Dodi, sementara bi Ema hanya tersenyum manis pada fitri. Dengan maksud agar tidak mengecewakan perasaan Dodi, maka bi Ema memuji Dodi dan tersenyum manis pada Fitri, karena pikir bi Ema, Dodi sebagai kakak harus tetap dipuji bisa ini dan itu, sementara adiknya sebaiknya mengalah walaupun sebenarnya terbukti hasil karya Fitri lebih baik dari hasil karya Dodi. Bi Ema sebagai bibi yang baik, tidak ingin menjatuhkan perasaan sang kakak di depan adiknya, hanya saja caranya yang kurang tepat dengan memuji Dodi berlebihan sehingga membuat Dodi tidak tahu bahwa gambarnya sebetulnya kurang bagus. Sementara itu Fitri yang sebenarnya memiliki gambar lebih bagus, hanya disenyuminya saja, yang sebenarnya dapat mengakibatkan Fitri tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki potensi yang besar dalam menggambar.
Alangkah baiknya bila bi Ema mengatakan yang sesungguhnya, namun dengan cara yang tidak menjatuhkan perasaan Dodi dan juga dengan tidak membanding-bandingkan dengan adiknya. Memang sudah wajar bagi anak yang telah berbuat bagus, kita wajib memberi pujian, agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan sudah baik. Katakanlah hal apapun yang sesungguhnya walaupun pahit, dengan cara yang hikmah.
Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. (QS. 23 : 96)
http://jisc.eramuslim.com/jendela_hati/display/468-katakanlah-walaupun-pahit
Situs
ISLAM HOUSE
http://www.islamhouse.com/s/10523?gclid=CMLr8cyjt6cCFUV76wodBjdr_Q
Situs Lakalaka
http://situslakalaka.blogspot.com/2011/01/5-fakta-mengagumkan-tentang-adzan.html
Realitas
Ayah-ibu merupakan figur orang dewasa pertama yang dikenal anak sejak bayi. Selain kedekatan karena faktor biologis, anak biasanya cukup dekat dengan ayah-ibunya karena faktor intensitas waktu yang cukup banyak ia habiskan bersama mereka. Oleh karena itu, ayah-ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam hal pengembangan karakter. Peran penting ayah-ibu ini memerlukan perencanaan dan tindak lanjut, agar ayah-ibu dapat melakukan pengasuhan yang patut bagi anak. Dalam hal pengembangan karakter, ayah-ibu juga berperan sangat signifikan sehingga ayah-ibu perlu belajar tentang pengasuhan yang mampu mengembangkan karakter yang baik bagi anak-anaknya.Namun kenyataan tidak semudah teori. Suatu data penelitian menyebutkan bahwa dari 100 % orang tua, yang mampu dan sadar untuk bisa mendidik karakter anak tidak lebih dari 20 atau 30%. Selebihnya tidak memiliki kapasitas untuk mendidik anak (Yaumil dalam Harry, 2002). Banyak kasus kerusakan moral dan perilaku anak yang terjadi disebabkan pengaruh buruk dari pengasuhan ayah/ibu yang tidak patut. Selain itu, tantangan kehidupan modern yang ditandai dengan berbagai fenomena seperti: kedua orang tua (ayah-ibu) yang bekerja, derasnya arus informasi media cetak dan elektronik yang nyaris tanpa saringan, dan terpaparnya anak dengan pornografi; diduga juga berpengaruh signifikan terhadap pengembangan karakter anak. Berbagai tantangan tersebut makin menguatkan akan peran penting pengasuhan yang patut oleh ayah-ibu bagi pengembangan karakter anak. Agar ayah-ibu dapat mengembangkan karakter anak melalui pengasuhan yang patut, perlu disosialisasikan tentang pentingnya pengasuhan yang patut serta berbagai ilustrasi tentang cara ayah-ibu mengasuh anak secara patut. Salah satu bentuk sosialisasi tersebut adalah melalui seminar, pelatihan, atau penyebarluasan media edukatif untuk ayah-ibu.
Peran Ayah Ibu Bagi Pngembangan Karakter Anak
Pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga batih (kakek-nenek), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Jika antar berbagai unsur lingkungan pendidikan tersebut tidak harmonis maka pembentukan karakter pada anak tidak akan berhasil dengan baik. Pada keluarga inti, peranan utama pendidikan terletak pada ayah-ibu. Philips (dalam Nurokhim, www.tnial.mil.id) menyarankan bahwa keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang (school of love), atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.
Keluarga yang sehat dicirikan dengan keterlibatan ayah-ibu yang hangat dalam mengasuh dan mendidik anak, sehingga anak akan memiliki figur ayah-ibu yang seimbang serta memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan ayah-ibunya. Jika ayah-ibu sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati ayah-ibunya. Semakin besar dukungan ayah-ibu terhadap anak, semakin tinggi perilaku positif anak
Perilaku Anak yang Wajar
Usia 0-3 tahunTahap membangun fondasi moralTahap ini merupakan masa penting untuk membentuk kelekatan psikologis antara orangtua dan anak (bonding/attachment). Karenanya, orangtua harus menunjukkan cinta dengan memeluk, mencium, berkata-kata manis, bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, memberi stimulasi fisik dan mental lewat bermain, bercerita juga mengajak jalan-jalan.
- Fase 0 (Usia sekitar 4 tahun)Pada tahap ini anak berfikir secara egosentris, mereka masih menganggap apa yang mereka inginkan itu adalah baik. Mereka akan berbuat baik karena ingin mendapatkan hadiah pujian dan menghindari hukuman.Ciri khas anak usia ini; egois, cenderung manipulatif dan berbohong, mereka cenderung melanggar aturan dan berkata tidak baik dalam proses mencoba-coba dan mencari identitas diri. Pada fase ini mereka dapat diajarkan tentang moral karena sudah mengerti dan sudah bisa bekerjasama juga menunjukkan kasih sayang sejauh tidak mengganggu kepentingannya.Cara menghadapi anak fase ini dengan cara berpikiran positif bahwa ini adalah tahap perkembangan normal, lalu beri anak pilihan-pilihan yang membuat mereka bisa mengambil keputusan sendiri. Pada fase ini Anda dapat menerapkan pemberian imbalan dan hukuman. Selanjutnya beri mereka perspektif baru tentang bagaimana mereka seharusnya dengan memberikan aturan-aturan yang jelas, contoh bagaimana berprilaku yang baik, menumbuhkan empati, mengenalkan konsep adil dan melatihnya untuk tahu tentang hak dan kewajiban lewat permainan.
- Fase 1 (Usia 4,5- 6 tahun)Fase ini mereka patuh tanpa syarat. Bagi mereka baik itu jika mengerjakan sesuatu sesuai perintah. Alasan mereka berbuat baik agar terhindar dari masalah atau hukuman.Ciri khas anak fase ini; menurut dan bekerjasama, menerima pandangan orang lain namun yang dianggap benar adalah pandangan orang dewasa, bisa menghormati otoritas guru, menganggap orang dewasa banyak tahu, suka mengadu, masih suka melanggar aturan karena belum mengerti alasan peraturan dibuat.Cara menghadapi anak fase ini; mengontrol secara eksternal, menumbuhkan rasa percaya mereka pada Anda, kemudian beri pandangan baru bagaimana mereka seharusnya dengan memberi alasan-alasan selain karena otoritas, selalu dihadapkan pada pemahaman moral yang baik, mengajarkan apa yang boleh dan tidak dilakukan, jangan berlebihan memakai kekuasaan karena terkadang anak perlu dianggap sebagai orang dewasa.
- Fase 2 (Usia 6,5- 8 tahun)Pada tahap ini anak mulai berpikir berbuat baik hanya untuk keuntungan pribadi. Mereka menganggap hal baik adalah saya harus mengontrol diri dan berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat baik pada saya.Ciri khas mereka; merasa punya hak seperti orang dewasa, tidak mau lagi diperintah orang dewasa, memiliki konsep keadilan kaku (balas membalas), berprilaku baik agar disenangi, cenderung melanggar perintah, berpotensi bertindak kasar dan tidak berempati, kurang bisa melihat tindakan yang salah dan banyak terlibat perkelahian.Cara menghadapi anak fase ini; menanamkan arti pentingnya cinta, menekankan nilai agama, membantu mereka melakukan sesuatu dengan ikhlas, ciptakan hubungan mesra, beri contoh prilaku yang baik.
- Fase 3 (Usia 8,5- remaja)Fase ini anak mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bersikap sesuai dengan harapan orang lain. Hal yang mereka anggap baik adalah saya harus menjadi baik dan menyesuaikan dengan harapan orang yang saya kenal dan cintai. Alasan mereka berbuat baik karena ingin orang berpikiran baik tentang mereka (social approval) dan karena pikiran sendiri bahwa mereka baik (penghargaan pada diri).Ciri khas perkembangan moral pada tahap ini; ingin mendapatkan penghargaan sosial dari oranglain, mengerti konsep ‘golden rules’ (memperlakukan orang lain seperti kamu mengharapkan orang lain memperlakukanmu), mengerti apa yang dibutuhkan orang lain, menerima otoritas orangtua, bertanggung jawab, masih kurang percaya diri dan merasa tidak aman, serta sudah memiliki nurani meski belum mantap karena masih terpengaruh lingkungan luarnya.Cara untuk menghadapi anak fase ini; memelihara hubungan baik lewat komunikasi dengan mereka, membantu membangun konsep diri mereka yang positif, berdiskusi tentang masalah moral, seimbang dalam memberi kebebasan dengan mengontrol tindakan mereka.
Dalam Pandangan Islam
Islam telah menganjurkan kepada kita agar senantiasa memperhatikan semua etika dalam hal pendidikan anak, karena kita sudah mengetahui bahwa orang tua adalah cerminan anak di masa depan. Sehingga anak akan berkembag dengan berdasarkan nilai Islam dalam diri jika sejak masih dalam rahim sudah di ajarkan agama, yakni kita selalu diperdengarkan kalam Allah SWT secara terus menerus baik itu dzikir maupun ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan.
Sejak itulah awal pendidikan dalam Islam agar membentuk manusia yang memiliki karakter – karakter pribadi Islam yang tangguh. Siap menjadi pembela agama Allah. Lanjut, ketika mereka lahir, maka pendidikan yang telah dicontohkan Luqman kepada anaknya. Dan cara menasehati anak yang bijak agar mereka tetap berada dijalan yang hanif ini.
Luqman adalah seorang yang diberikan hikmah/kebijaksanaan oleh Allah. Satu hikmahnya adalah untuk selalu bersyukur kepada Allah:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [Luqman 12]
Luqman mendidik anaknya agar tidak mempersekutukan Allah. Nasehat Luqman kepada anaknya wajib ditiru oleh ummat Islam lainnya.
- Jangan Mempersekutukan Allah
- Berbuat Baik Kepada Orang Tua
- Berbuat Baik Meski Sedikit
- Jangan Sombong
Jangan Mempersekutukan Allah
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kelaliman yang besar”. [Luqman 13]
Ummat Islam tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah atau musyrik. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni oleh Allah.
Berbuat Baik Kepada Orang Tua
“Dan Kami perintahkan kepada manusia berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.“ [Luqman 14]
Ibu kita mengandung kita selama 9 bulan. Beliau juga sampai berdarah-darah dengan resiko kehilangan nyawa ketika melahirkan kita. Belum lagi mereka harus sabar merasakan rengekan dan tangisan kita bahkan mungkin pukulan kita ketika masih kecil. Mereka memberi kita makan, minum, pakaian, pendidikan, dan sebagainya. Sudah sepantasnya kita berbakti pada mereka. Tidak Mengikuti Orang Tua dalam Kemaksiatan dan Berbuat Baik kepada Mereka
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Luqman 15]
Berbuat Baik Meski Sedikit
Lukman berkata: “Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” [Luqman 16]
Mengerjakan Shalat, Menyuruh Kebaikan dan Melarang Kemungkaran, serta Bersabar
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [Luqman 17]
Jangan Sombong
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman 18]
Rendah Hati dan Tidak Berkata Kasar
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” [Luqman 19]
Itulah nasihat Luqman kepada anaknya yang diabadikan oleh Allah dalam Al Qur’an. Semoga kita semua bisa mengamalkannya dan mengajarkannya kepada anak kita.
oleh Mutiara Bunayyah pada 29 September 2010 jam 14:53
http://www.facebook.com/note.php?note_id=153665371333773&id=100000947394797
Nasehat dari Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah
Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya
Dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak dipahami
Dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya.
Islam for All
